Skrinning Kesehatan Umum (Mata, Telinga, Dan Gigi) Pada Siswa Upt SLB Pembina Medan Sebagai Upaya Deteksi Dini Gangguan Kesehatan Anak Berkebutuhan Khusus
Keywords:
Skrinining Kesehatan; Penyakit Tidak Menular; Usia Produktif; Deteksi Dini; Pengabdian MasyarakatAbstract
Anak berkebutuhan khusus (ABK) memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan yang tidak terdeteksi karena keterbatasan komunikasi dan kesulitan menyampaikan keluhan secara verbal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining kesehatan umum meliputi pemeriksaan mata, telinga, dan gigi pada siswa di UPT SLB Pembina Medan sebagai upaya deteksi dini gangguan kesehatan. Metode pelaksanaan meliputi tahap persiapan, koordinasi dengan pihak sekolah, pelaksanaan skrining menggunakan instrumen sederhana yang disesuaikan dengan kondisi anak berkebutuhan khusus, serta pemberian edukasi kesehatan kepada guru dan orang tua/wali. Kegiatan ini melibatkan sejumlah siswa sebagai sasaran (jumlah bersifat contoh dan perlu disesuaikan dengan data riil). Hasil skrinning (data ilustratif) menunjukkan ditemukannya sejumlah kasus gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, dan masalah kesehatan gigi dan mulut pada siswa yang diperiksa. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi dasar tindak lanjut rujukan ke fasilitas kesehatan serta meningkatkan kesadaran pihak sekolah dan keluarga terhadap pentingnya pemantauan kesehatan anak berkebutuhan khusus secara berkala
Downloads
References
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Skrining Kesehatan Anak Usia Sekolah. Jakarta: Kemenkes RI.
World Health Organization. (2021). World Report on Vision. Geneva: WHO Press.
Chamidah, A. N. (2010). Pendidikan inklusif untuk anak dengan kebutuhan khusus. Jurnal Pendidikan Khusus, 7(2), 1–5.
Dewi, T. K., Dewi, D. S., & Fauziah, S. A. (2025). Pendidikan dan pendampingan kesehatan gigi dan mulut pada anak berkebutuhan khusus di Kota Tasikmalaya. GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat.
Indahwati, V., Mantik, M. F. J., & Gunawan, P. N. (2015). Perbandingan status kebersihan gigi dan mulut pada anak berkebutuhan khusus SLB-B dan SLB-C Kota Tomohon. e-GIGI, 3(2), 361–362.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Penuntun hidup sehat (Edisi ke-4). Jakarta: Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Petunjuk teknis penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala anak usia sekolah dan remaja. Jakarta: Kemenkes RI.
Kosasih, E. (2012). Cara bijak memahami anak berkebutuhan khusus. Bandung: Yrama Widya.
Mardiati, E., Siregar, I. H. Y., Dui, T., & Ayuningtiyas, D. (2016). Survei pH saliva pada anak retardasi mental di SLB Kabupaten Jepara tahun 2016. Jurnal Kesehatan Gigi, 3(1).
Motto, C. J., Mintjelungan, C. N., & Ticoalu, S. H. R. (2017). Gambaran kebersihan gigi dan mulut pada siswa berkebutuhan khusus di SLB YPAC Manado. e-GIGI, 5(1), 106–111.
Ningsih, C. S., & Kustantiningtyastuti, D. (2022). Hubungan tingkat pengetahuan orang tua dengan status kebersihan gigi dan mulut anak tunarungu usia 9–12 tahun di SLB Kota Padang. Andalas Dental Journal, 78–88.
Republik Indonesia. (2016). Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 69.
Setyaningsih, R. (2019). Faktor-faktor yang memengaruhi status gizi pada anak berkebutuhan khusus. Jurnal Kesehatan Holistic, 3(2), 1–16.
Tella, A. (2012). Hubungan pola makan dengan status gizi pada anak di wilayah kerja Puskesmas Paniki Kecamatan Mapenget Manado. Manado: Universitas Sam Ratulangi.
Downloads
Published
Issue
Section
License
-
Semua artikel yang diterbitkan di JPM-KGP menggunakan lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0).
-
Lisensi ini memperbolehkan pihak lain membaca, mengunduh, membagikan, dan menggunakan artikel, selama menyebutkan penulis dan sumber asli.
-
Penulis tetap memegang hak cipta penuh atas naskahnya.
-
Penggunaan artikel untuk tujuan komersial diperbolehkan dengan atribusi yang jelas.
-
Penulis bertanggung jawab atas keaslian isi, data, dan kutipan dalam naskah.


